Previous
Next

Sep 5, 2016

Ratumbanua : Rumopa Harus Meminta Maaf kepada Publik

Ratumbanua : Rumopa Harus Meminta Maaf kepada Publik



MANADO - Belum lama usai isu gubernur swasta, kontroversi baru kini dilakukan oleh pendeta Lucky Rumopa. Karena mulut badan binasa, pepatah ini sepertinya cocok untuk Pendeta (Pdt) Lucky Rumopa. Akibat menuliskan komentar di media sosial yang dinilai tak menghargai kegiatan keagamaan gereja lain akibatnya pernyataan tersebut menyebabkan kalangan masyarakat seakan terprofokasi.

Aktivis yang juga pemuda Katolik kabupaten Minahasa Utara (Minut) Freddy "Dayak" Ratumbanua dengan tegas menyatakan permohonan maaf kekonyolan yang dilakukan oleh pdt Lucky Rumopa.

"Ini bukan sikap sentimentil antar umat agama, tapi sebuah tuntutan salingenghargai dan menghormati, Pdt Lucky Rumopa harus berani bertanggung jawab, jangan dibiarkan berlarut-larut yang akhirnya membias dan akan makin banyak yang terprofokasi," tutur Ratumbanua.

Lanjutnya, candaan konyol seperti ini tidak sepantasnya dilontarkan oleh seorang tokoh agama yang terlebih lagi Rumopa adalah seorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi.

"Setahu saya Rumopa adalah seorang tokoh gereja dan sekaligus melekat posisi sebagai penasihat politik dan pemerintahannya gubernur Olly Dondokambey, ini membahayakan pencitraan kepala daerah kita," ungkap Ratumbanua.


Untuk diketahui, Dalam komentar social media facebook tersebut Oknum Lucky Rumopa Iwan yang dikenal sebagai seorang Pendeta mengatakan dengan dialeg Manado “Hahaha kurang rasa gili da lia ni salib baku baku ovor….hihihi apa depe makna teologis ini…???”


Menanggapi ini, Pendeta Roy Lengkong yang juga Ketua BKSAUA Kota Manado yang mengupload foto tersebut langsung membalasnya dengan menuliskan

“Pegang Salib kong Pdt bilang gili itu tanda pendeta gila, so nyanda ada rasa”.

Pendeta Roy Lengkong juga menjelaskan makna teologis yang dipertanyakan akun facebook Lucky Rumopa Iwan.

“Teologisnya mengantar anak muda menghayati teologi Salib yang artinya penderitaan yang membebaskan”


Tokoh Agama Katolik yang juga Pastor Paroki St.Ignatius Manado Pst.Frans Mandagi,Pr menjelaskan, secara teologis Salib adalah simbol kemenangan bagi Umat katolik, Salib diarak dan diserahkan dari satu pihak ke pihak yang lain menjadi ungkapan persatuan, Semua orang yang percaya bersatu di bawah Salib tanda kemenangan Kristus atas Maut.

“Apa yang penting disitu bukan soal saling ovor Salib, tapi bahwa Salib diarak dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai tanda semua pihak dan daerah mengalami sukacita kemenangan karena Salib itu,”jelasnya.(Obe)